Snack's 1967

Pria Wanita Dan Anjing Laut

By : Admin | Mon, 19-Oct-12

Ternyata anjing laut memiliki kehidupan yang cukup menarik. Di saat musim kawin tiba, para anjing laut akan berkumpul dalam jumlah yang besar di sebuah daratan atau pulau kecil. Sang betina akan berusaha untuk menarik perhatian para pejantan, dan sebuah acara kompetisi pun diadakan di pulau itu. Para pejantan saling fight, smackdown satu dengan yang lain untuk menunjukkan kebolehan, kegesitan, dan kekuatannya.

Untuk pejantan yang memenangkan pertarungan, maka sang betina memperbolehkan sang jantan kawin dengannya. Dari kisah anjing laut di atas bisa kita ambil kesimpulan: sang betina menyukai pejantan yang lebih unggul dari pejantan lain, karena sang betina menginginkan keturunan yang unggul.

Selain itu, sang pejantan yang memenangkan kompetisi tersebut membuktikan bahwa ia mampu menjaga dan melindungi sang betina dan anak-anaknya kelak. Tidak hanya anjing laut saja yang mempunyai ritual-ritual sebelum masa perkawinan. Banyak sekali contoh ritual dari hewan-hewan lain yang mempunyai ritual yang lebih unik dan beragam untuk mencari pasangannya.

Pada prinsipnya, kehidupan romansa kita sebagai manusia juga tidak berbeda jauh dengan anjing laut dan hewan-hewan lainnya. Karena manusia memang sama-sama berada dalam klasifikasi kingdom animalia atau metazoa dengan hewan-hewan tersebut. Tetapi karena kita mengalami proses evolusi yang lebih sempurna dan kompleks, budaya dan ritual romansa kita pun jauh lebih berkembang dan lebih rumit. Pada artikel kali ini gue akan kupas sebuah dinamika romansa yang cukup menarik dan banyak yang tidak disadari oleh pria-pria di luar sana. Are you ready?

Coba inget saat-saat di mana lo menjalin hubungan yang cukup deket dengan seorang wanita, mungkin PDKT, TTM atau pacaran. Pasti sering muncul masalah-masalah yang terjadi di antara lo dan dia, yang kalau dipikir secara logis, sebenarnya masalah-masalah tersebut sangat sepele bahkan gak penting banget. Tapi justru malah menjadi sebuah masalah besar, contohnya: masalah terlambat, sms atau telpon, cemburu-cemburuan, dsb. Setiap ada masalah, lo langsung berusaha untuk memberi alasan dan memberi solusi yang masuk akal. Tapi meskipun semua alasan lo sangat logis, seperti satu tambah satu pastilah dua, cewe sepertinya gak bisa ngerti.

Akibatnya banyak cowo yang beranggapan kalo cewe itu makhluk yang over sensitif, emosional, dan jarang menggunakan logika dengan baik dalam melihat sebuah permasalahan.

Tapi itu adalah anggapan yang sebenarnya gak relevan karena mereka juga diciptakan memiliki volume otak yang sama dengan cowo. Mungkin memang sebenarnya lo gak bersalah dengan dia, tetapi sebenarnya lo udah melakukan kesalahan terhadap DIRI LO SENDIRI.

Justru wanita adalah makhluk yang cerdas. Semua masalah dan komplain yang diberikan kepada cowo adalah sebuah cara yang dilakukan cewe, secara sadar maupun gak sadar, cewe menginginkan dan membutuhkan sosok seorang cowo/pria yang unggul yang memiliki kemampuan yang lebih dibanding cowo-cowo lain di luar sana. Dan salah satu faktor keunggulan yg di bahas di sini adalah kemampuan cowo yang mampu menjaga dirinya, pasangannya dan keluarganya dari berbagai masalah, persoalan dan bahaya.

Ini faktor yang sangat penting, karena cowo mempunyai peranan sebagai seorang kepala keluarga, seorang imam, seorang decision maker. Untuk memastikan agar cewe gak memilih cowo yang salah, cewe diciptakan dengan memiliki sebuah mekanisme khusus yang digunakan untuk menguji seberapa layak si cowo, sehingga si cewe memutuskan untuk menjalin hubungan dengannya. Masalahnya, pengujian si cewe kepada si cowo gak akan selesai setelah mereka 'jadian' atau menikah, cewe akan terus melakukan studi kelayakan tersebut secara terus menerus, secara berkala, untuk memastikan apakah kemampuan kita sebagai seorang cowo memang masih layak atau nggak. Banyak cowo berpikir, cewe cuma mengikuti emosinya aja dalam bertindak, tetapi kenyataannya apabila ada sahabat dekat yang curhat, mereka mengerti dan mampu memberikan nasihat yang logis kepada sahabatnya itu.

Mereka juga sering memberikan saran yang positif dan masuk akal. “Udah jangan dipikirin dulu, tunggu emosi kamu reda dulu. Baru nanti pelan-pelan diomongin baik-baik..” Hal tersebut ngebuktiin cewe juga sebenernya tahu caranya menggunakan logika mereka, tetapi dalam kondisi tertentu, mereka memang sengaja me-non- aktifkan logika dan mengaktifkan mekanisme tersebut untuk menguji kita ( cowo ).

Karena insting ini sudah ada selama ribuan bahkan jutaan tahun, insting yang diwariskan oleh nenek moyang kita sebagai salah satu cara “Self Defense dan Survival“. Mekanisme ini akan menjadi malapetaka bagi cowo, jika kita nggak ngerti dan nggak menyadari fungsi tersebut. Dari persoalan-persoalan kecil yang nggak penting inilah mekanisme tersebut secara otomatis diaktifkan, yang memicu cewe untuk melakukan sebuah “Studi Kelayakan“ secara berkala kepada cowo, yang muncul dalam bentuk keributan dan masalah - masalah yang diberikan si cewe kepada si cowo.

Dengan memberikan banyak masalah dan komplain yang membuat sakit kepala, si cewe mencoba menguji dan menilai kelayakan kita sebagai seorang cowo yang unggul, apabila masalah sepele yang diberikan oleh si cewe aja kita nggak mampu tangani, maka dia pun akan menganggap kita nggak akan mampu menyelesaikan persoalan- persoalan yang lebih besar, persoalan dalam hal-hal lainnya yang mungkin akan dihadapi di masa depan. Mungkin ini adalah sebuah cara yang gak cerdas dan mengada- ngada menurut pandangan kita sebagai seorang cowo, tapi menurut cewe ini adalah cara yang cerdas untuk menjamin kelangsungan hidup si cewe, keluarganya, dan keturunannya. Karena itu , wanita AKAN terus memberi masalah demi masalah kepada kita. They can't help it!

Ini adalah kenyataannya. Apabila kemudian si cewe udah menganggap kita nggak mampu dan gagal ngebuktiin kompetensi kita sebagai seorang cowo yang mampu mengatasi “Studi Kelayakan“ yang diberikannya, maka si cewe secara sadar atau nggak sadar, akan berusaha dan mencoba untuk mengambil alih fungsi dan peranan kita sebagai seorang cowo. Bisa dilihat hal ini terjadi ada disekitar kita. Hubungan- hubungan di mana pihak cewe menjadi pihak yang dominan, yang menentukan segala sesuatu dan memegang tali di leher cowo. Itu BUKAN rasa sayang dan kagum seperti seorang ratu memandang rajanya. Yang mana yang kerap kita alami? Karena pria dianggap nggak layak, kemungkinan yang paling bagus adalah dia akan meninggalkan dan mencari pria lain yang lebih kompeten.

Dan si pria akan terbebas sementara sampai akhirnya menemukan 'majikan' baru. Sedangkan kemungkinan terburuknya adalah, si pria akan selalu berada dibawah kendali wanita, akhirnya kita hanya bisa meratapi nasib sendiri di ujung kamar yang gelap, suram dan kelam, sambil menyalahkan si wanita.

Padahal kita sudah mengorbankan banyak hal demi si wanita, sudah ngebuktiin ketulusan cinta, dan membuang segala harga diri demi dia. Tapi semua kebaikan kita itu nggak ada artinya lagi, apabila kita sudah di pandang sebelah mata oleh wanita, karena dianggap nggak layak dalam menjalankan peranan sebagai seorang pria. Ada tiga pilihan yang bisa di lakukan untuk ngerespon studi kelayakan yang dilakukan si wanita terhadap si pria.

Pilihan Pertama


Memikirkan dan menanggapi maksud si wanita dengan serius, dan melakukan counter attack dengan cara yang frontal dan memberikan argumen-argumen yang logis dan masuk akal, sehingga akhirnya memicu keributan dan permasalahan yang makin besar.

Pilihan Kedua


Mendengar dengan seksama kemudian mengalah dan meminta maaf walaupun nggak salah.

Pilihan ketiga


Menyadari apa yang sedang terjadi dan kita tahu bagaimana cara untuk menonaktifkan alarm tersebut dengan cara yang cerdas, tepat dan lebih dewasa sehingga sang wanita melihat si pria lulus dan terbukti menjadi pasangan terbaiknya